Friday, March 27, 2009

Aktifitas Bisnis Dalam Pandangan Syariah

Syariah Islam merupakan sistem hidup yang memiliki karakteristik menyeluruh (komprehensif) (QS. 16:89) dan universal yang mencakup aqidah, syariah dan ahlaq. Konprehensif berarti merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial ( muamalah). Ibadah diperlukan untuk menjaga keimanan, dan ketaatan kepada sang Khaliq . Dan juga ibadah senantiasa mengingatkan secara kontinu tugas manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Adapun muamalah diturunkan untuk menjadi aturan main ( rules of the game) dalam kehidupan sosial ekonomi.

Universal bermakna dapat diterapkan setiap waktu dan tempat sampai akhir zaman. Keuniversalan ini dapat dilihat pada masalah muamalah yang mempunyai cakupan yang sangat luas dan fleksible, muamalah tidak membeda-bedakan antara muslim dan non muslim . Secara umum tugas kekhalifahan manusia adalah mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan (QS. 6:165) serta tugas pengabdian atau ibadah dalam arti luas (QS. 51:56). Untuk menunaikan tugas tersebut Allah SWT memberi manusia dua nikmat utama, yaitu manhaj al-hayat ‘ sistem kehidupan’ dan wasila al-hayat ‘sarana kehidupan.

Manhaj al-hayat adalah seluruh aturan kehidupan manusia yang bersumber kepada Al-qur’an dan sunnah Rasul. Aturan tersebut berbentuk keharusan melakukan sesuatu atau sebaiknya melakukan sesuatu, juga dalam bentuk larangan melakukan atau sebaiknya meninggalkan sesuatu. Aturan tersebut dikenal dengan ‘al-ahkamu taklifiyah; yakni wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Aturan tersebut bertujuan untuk menjamin keselamatan manusia sepanjang hidupnya, baik yang menyangkut keselamatan agama, keselamatan diri (jiwa & raga), keselamatan akal, keselamatan harta benda maupun keselamatan nasab keturunan. Hal semua ini merupakan kebutuhan pokok atau primer seluruh manusia (al-hajat adh-dharuriyyah) yang merupakan tujuan pokok syariah Islam . Pelaksanaan Islam sebagai way of life secara konsisten dalam semua kegiatan kehidupan akan melahirkan tatanan kehidupan yang baik ‘hayatan thayyibah’ (QS. 16:97).

Sebaliknya menolak sistem ini maka berbagai krisis, resesi, kesulitan hidup, kesengsaraan, kehidupan yang hampa, rusaknya nilai-nilai moral/ahlaq, kekacauan, ketakutan , kesempitan hidup, kezaliman dan sebagainya akan terjadi secara simultan ‘ma’isyatan dhanka’ (QS. 20:124-126). Aturan-aturan ini juga diperlukan untuk mengelola wasilah al-hayah atau segala sarana prasarana kehidupan (air, tanah, tumbuhan, hewan ternak , dan harta benda lainnya) yang diciptakan Allah SWT untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan (QS. 2:29). Sesuai pradigma diatas aktifitas bisnis dapat dijelaskan sebagai berikut:

A.Pemiliki mutlak segala sesuatu yang ada di muka bumi ini termasuk harta benda adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia sifatnya relatif dan sementara, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai ketentuan-Nya (QS. 57:7). Karena sesungguhnya setiap manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak membawa apa-apa dan akan meninggalkan dunia juga tidak membawa apa-apa kecuali amal sholehnya.

B.Bagaimana status harta yang dimiliki oleh manusia ?

Pertama, harta sebagai amanah yang harus dikelola dan dimanfaatkan sesuai ketentuan Allah SWT. Sebab harta yang diperoleh dan yang dimanfaatkan akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat tentang bagaimana cara mendapatkan harta dan dimana dibelanjakan atau dimanfaatkan. Olehnya itu pemanfaatan dan pengelolaan harta tidak boleh bertentangan dengan syariah yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh manusai sehingga manusia dapat melaksanakan ibadah kepada Allah dengan baik sebagai hakekat dari penciptaan-Nya. Amanah ini tidak boleh disia-siakan dalam bentuk maksiat, boros, dan hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Kedua, harta sebagai perhiasan dan kesenangan hidup. Sebagai perhiasan dan alat kesenangan hidup harta dapat memberikan motivasi hidup sehingga seseorang dapat memaksimalkan potensinya untuk bekerja mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup atau prestise dari harta kekayaan . Sehingga mendorong terjadinya dinamika kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Sebaliknya harta dapat memperdayakan dan melalaikan diri terhadap kewajiban kepada Allah. Karena sesungguhnya harta dan dunia secara umum adalah kesenangan yang menipu (QS.57:20). Olehnya harus senantiasa berhati-hati terhadap tipuan harta kekayaan. Karena harta ibarat meminum air laut semakin diminum semakin haus. Bahkan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seandainya seseorang diberikan satu lembah emas, setelah dimiliki dia tidak puas, dia mau dua, tiga dan seterusnya sampai kematian menjemputnya.

Ketiga, Harta sebagai ujian keimanan., Harta adalah ujian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Harta adalah sarana yang bersifat netral tergantung kepada siapa yang memegang dan memanfatkannya. Ia bisa dipergunakan dalam rangka kebajikan maupun kejahatan, untuk membangun maupun merusak. Ia akan membawa kebaikan dan keselamatan hidup didunia dan diakhirat, manakala dipergunakan dalam jalan yang benar, demi menegakkan tugas hidup beribadah dan bertauhid. Sebaliknya ia bisa menjadi bencana dan kecelakaan dunia dan akhirat manakala dimanfaatkan demi memuaskan dorongan hawa nafsu semata (QS. 3:186, 8:28). Tujuan Allah menguji manusia berupa harta agar Allah mengetahui, apakah kalian bersyukur kepad-Nya atas limpahan nikmat tersebut dalam rangka ketaatan kepad-Nya, ataukah disibukkan oleh harta kekayaan sehingga lalai mentaati-Nya dan bahkan mendurhakai-Nya? Ujian ini berupa kebaikan dengan banyak harta kekayaan atau keburukan berupa kekurangan harta kekayaan (QS. 21:35). Dan kebanyakan manusia tidak lulus ujian dengan melimpahnya harta kekayaan yang dimiliki, bahkan umumnya mereka menyombongkan diri dan mendurhakai Allah serta memandang enteng orang yang dibawahnya.

Keempat, Harta sebagai bekal ibadah. Harta kekayaan bukan tujuan hidup melainkan sarana beramal dan beribadah kepada Allah. Hampir semua ibadah terkait dengan harta kekayaan, hal ini dapat mendorong seseorang untuk lebih produktif agar dapat beramal lebih banyak. Berinfaq/sedekah, berzakat, naik haji, membangun sarana ibadah dan sarana umum, membantu jihad fiisabilillah semua nya membutuhkan harta kekayaan yang banyak.

C.Pemilikan harta dilakukan melalui usaha (a’mal) atau memiliki mata pencaharian (ma’isyah)

Dalam Al-qur’an dan hadis Nabi SAW mendorong seseorang untuk mencari nafkah secara halal (QS. 67:15). Syariah Islam sangat mengecam orang yang malas, tidak mau bekerja dan suka meminta-minta kepada sesama manusia padahal ia sanggup untuk bekerja. Rasulullah SAW memotivasi kita dengan berdoa’ agar terhindar dari penyakit lemah, sedih, susah, hina dan malas. Setiap orang wajib bekerja, kalau dia berkelebihan maka dia wajib mendermakannya. Bekerja merupakan kewajiban kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada anak dan istri, kepada kerabat dan kewajiban membantu orang lain yang lemah. Bekerja yang halal merupakan kehormatan dan kemuliaan dan ibadah kepada Allah. Selanjutnya bekerja harus ihlas dan professional sehingga dapat menghasilkan produktivitas yang optimum (QS. 28:26).

Rasulullah SAW menegaskan bahwa sesengguhnya Allah SWT mencintai seseorang bekerja secara professional. Dalam bekerja kita tidak boleh cepat puas dari hasil yang diperoleh tetapi hendaklah setelah selesai pekerjaan melanjutkan pekerjaan berikutnya atau yang lain (QS. 94:7). Prinsipnya adalah bagaimana hidup ini fuul manfaat baik untuk urusan dunia maupun untuk urusan akhirat. Sebagaimana Rasullah SAW mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya kepada orang lain. Tangan diatas (memberi) lebih baik dari pada tangan dibawah (menerima). Disini juga pentingnya tanggungjawab pemerintah bagaimana membuat regulasi sehingga masyarakat mudah bekerja dan mengembangkan pekerjaan sehingga dapat mendorong peningkatan produktivitas masyarakat.

D. Dilarang mencari harta, berusaha atau bekerja yang melupakan kematian (QS. 102:1-2), melupakan dzikrullah (QS. 63:9) ,melupakan sholat dan zakat (QS. 24:37), memusatkan kekayaan hanya pada kelompok orang kaya atau konglomerat saja. (QS. 59:7). Syariah Islam mengajarkan pentingnya hidup yang seimbang. Seimbang antara urusan dunia dan akhirat, kehidupan jasmani dan spiritual. Syariah Islam mengajarkan kepada manusia bahwa harta kekayaan merupakan karunia Allah SWT yang harus diperoleh dengan memaksimalkan doa’ ,ikhtiar serta menyempurnakan tawakkal. Meskipun demikian tidak boleh dengan alasan karena bekerja mencari karunia Allah kita melupakan hak dan kewajiban kita kepada Allah. Olehnya itu setiap orang , lembaga, instansi atau perusahaan tidak boleh menghalagi seseorang untuk melaksanakan ibadah karena alasan pekerjaan. Justru seharusnya yang dilakukan adalah bagaimana membuat sistem dan kebijakan dimana setiap orang dapat melaksanakan ibadah kepada Allah ditengah kesibukannya bekerja dengan tenang. Karena sesungguhnya ibadah itu dapat menjadikan seseorang lebih matang jiwanya, spirit kerja semakin fit, dapat melahirkan aspirasi yang cemerlang. Ibadah dapat meningkatkan stamina lahir dan batin

E. Dilarang menempuh usaha yang haram dalam mendapatkan harta kekayaan seperti; kegiatan transaksi riba (bunga) (QS. 2:273-281), perjudian, jual-beli yang terlarang atau haram (QS.5: 90-91), mencuri,menipu, merampok, menggasak, korupsi, nepotisme (QS. 5:38), curang dalam timbangan dan takaran (QS. 83:2-3), melalui cara-cara yang batil dan merugikan (QS. 2: 188) dan melalui suap menyuap. Karena melakukan aktifitas bisnis yang bertentangan dengan syariah dapat merugikan pihak lain (zalim) dan merusak tatanan perekonomian masyarakat. Selain itu bisnis yang dikembangkan tidak memberi berkah dan maslahat terhadp kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

F. Harta harus berkembang dan manfaat. Harta/modal harus dimanfaatkan agar dapat mengembangkan harta/modal. Harta/modal tidak boleh diam (idle) atau ditimbun (ikhtikar) atau hanya berputar pada orang tertentu saja (QS. 59:7). Kalau seseorang tidak bisa mengelola hartanya dia boleh Kerjasama (mudharabah/musyarakah) dengan orang lain yang memiliki kemampuan bisnis . sehingga dapat mengembangkan usaha dan membuka kesempatan kerja. Wallahu a’lam

(Sumber: Artikel Idris Parakkasi. PINBUK sul-sel)

Thursday, March 12, 2009

Agar bisnis diberkahi


Saya sering merenung tentang arti kesuksesan yang umumnya menjadi tujuan banyak orang, tidak pelak lagi hampir semua diantara kita menginginkan sukses dibidang financial,untuk itulah kita harus bekerja sebagai karyawan,berwiraswasta,menjadi profesional yang tujuannya merubah status ekonomi kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Lantas bagaimana kalau kita sudah mampu memenuhi kebutuhan kita dengan baik,seperti sandang,pangan dan papan,pendidikan,kesehatan dsb ? saya yakin kita sebagai manusia tidak akan berhenti sampai disini ,tetapi akan terus menerus berusaha menambah dan terus menambah kekayaannya, yang sudah kaya akan terus berusaha menambah kekayaanya, sehingga tidak aneh seandainya manusia memiliki satu gunung emas niscaya dia akan mencari gunung emas berikutnya sampai ajal menjemputnya atau sampai mulut tersumpal tanah (kematian).. itulah buktinya bahwa manusia mempunyai nafsu.

Saya merasakan unsur - unsur nafsu mengejar kekayaan pada diri sendiri cenderung menjadi serakah kalau tidak dikendalikan bukan berarti maksud saya kita membatasi pencapaiannya, tidak silahkan saja kita menjadi kaya sekaya kayanya tetapi jangan sampai melupakan tujuan kita dalam mencapainya.

Akhir2 ini saya sering membaca literatur tentang bagimana sih cara berusaha,berbisnis atau investasi yang hasilnya bisa berkah dan membuat kita bahagia sesuai agama yang saya yakini yaitu islam ?

Saya melakukan demikian karena dengan alasan "pencapaian jumlah tidak menjamin kebahagiaan hidup kita" contoh dulu saya anggap kalau mempunyai uang 100 juta kita akan bahagia dan tentram ternyata sudah mencapainya,tidak juga. begitu juga 200 juta, 500 juta dst.

Pertanyaannya sekarang lantas apa yang membuat kita bahagia dan mendapat ketentraman dan ketenangan ketika kita memilikinya? ternyata kalau kita memiliki sesuatu perlakukan sesuatu itu sesuai keinginan pemberiNYA.itu dijamin harta kita insyaallah mendapat keberkahan.

Keinginan Allah atas orang yang memiliki harta banyak tertulis dalam ayat-ayat al-qur'an dan hadist yang menganjurkan kita ber zakat,infaq ,sodakoh ,wakaf dan sebagainya .Kalau mempunyai sesuatu yang wajib di zakati maka jangan lupa zakatnya,kalau mendapatkan kelapangan rezeki jangan lupa infak atau sodakohnya terhadap saudara kita terdekat, fakir miskin dan yatim piatu.

Ada artikel yang bagus yang mengingatkan saya tentang bagaimana seharusnya etika kita dalam menjalankan usaha supaya bisnis kita di berkahi, artikel ini saya ambil dari koran pontianak.

Dikisahkan suatu hari ketika seorang ulama besar Ibnu Al Mubarak masuk ke sebuah pasar, para pedagang berhamburan mendekatinya seraya mengeluh : "Wahai Syaikh, tolonglah doakan agar dagangan kami laris. Sudah beberapa lama jualan kami sepi." Seketika itu juga dengan tenang beliau berkata : "Sepinya perdagangan kalian adalah karena kalian banyak melanggar aturan syariat.

Di antara kalian ada orang yang gemar mengurangi timbangan, menjual barang cacat tanpa memberitahukan kecacatannya kepada calon pembeli dan mencampur barang yang bagus dengan barang yang buruk.

Kejujuran kalian telah hilang sehingga kalian tidak mendapat berkah. Keberkahan telah hilang dari tempat kalian berjualan ini. Selain itu, kalian banyak melakukan pergunjingan, saling bermusuhan dan dengki di antara sesama.

Karena itu, agar Allah menurunkan berkah-Nya kepada kalian, tinggalkanlah ketidakjujuran, pergunjingan dan saling dengki dengan sesama pedagang. Insya Allah, perdagangan kalian akan berjalan mulus." Rasulullah SAW. bersabda kepada Ali bin Abi Thalib KW : "Hai Ali !. Jujurlah walaupun kejujuran itu mencelakakan kamu di dunia, karena bahwasanya kejujuran itu bermanfaat bagimu di akhirat.

Dan janganlah kamu berdusta, walaupun berdusta itu bermanfaat untukmu di dunia. Karena sesungguhnya kedustaan kamu itu akan mencelakakan kamu di akhirat." Jadi dalam mencari rezeki, berupaya untuk menghindari dari sikap dan cara yang bathil sebab Rasulullah SAW mengingatkan : "Barang siapa mencari harta haram, maka Allah tidak akan menerima darinya amalan sedekah, pembebasan budak, ibadah haji, umrah dan perang.

Allah akan mencatat untuk diri orang tersebut beberapa dosa. Dan ketika dia meninggal dunia bekal yang dibawanya adalah untuk masuk neraka" (HR.Abu Daud). Dalam hadis lain Baginda SAW bersabda : "Seandainya pemilik harta haram mati syahid fi sabilillah sebanyak tujuh puluh kali, maka kesyahidannya itu tidak memberikan taubat baginya." Lagi Rasul SAW. bersabda : "Allah SWT tidak akan menerima zakat/sedekah dari harta yang ghulul (diperoleh dengan cara bathil)."

Oleh karena itu menurut Syaikh Mala Ali al Qari, kalau kita memperoleh harta haram, maka cara membersihkannya adalah dengan mengembalikannya kepada si pemilik harta, tetapi apabila kita tidak tahu lagi di mana alamatnya, maka hendaklah dia menyedekahkan harta tersebut atas nama si pemilik harta.

Seorang ulama memberi tamsil : "Apakah anda mau memakan makanan enak kegemaran anda tapi anda tahu didalamnya telah dicampuri secuil tinja ?". "Tentu tidak, bukan ?", ujar beliau. "Nah demikian pula dalam hal rezeki yang perolehannya bercampur dengan cara yang haram, maka Allah tidak akan sudi menerimanya", lanjut sang ulama. Rasulullah sejak dini memperingatkan : "Seorang hamba yang mencari harta tanpa cara yang haram akan mendapat keberkahan dalam hartanya.

Adapun orang yang mencari harta tanpa cara yang halal, ia akan dijerumuskan ke dalam neraka bersama hartanya tersebut." Lukmanul Hakim, yang namanya dicantumkan Allah dalam Al Quran, berwasiat kepada putranya agar selalu melakukan usaha secara halal : " Wahai anakku. Hendaklah engkau mencukupkan dirimu dengan usaha yang halal sehingga terhindar dari kefakiran.

Sebab, orang yang berada dalam kefakiran akan memiliki tiga sifat.

Pertama, lemah dalam kehidupan beragama.

Kedua, lemah akal, dan ketiga, kehilangan harga diri serta rasa malu.

Sifat ketiga ini merupakan musibah terbesar bagi seseorang. Sebab, demi harta, seseorang rela merendahkan dirinya dihadapan manusia." Selanjutnya walaupun usaha (rezeki) kita terhindar dari yang haram, maka agar berkah, kita wajib pula untuk membersihkannya, yaitu dengan cara mengeluarkan infaq, sedekah atau zakat. Rasul SAW. bersabda : "Apabila harta kekayaan tidak terdapat sedekah sama sekali, maka ia akan membinasakannya".

Patut kita simak pesan dari Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib "Hartamu akan menjadi milikmu selama kamu menafkahkannya.

Semoga bermanfaat....

Saturday, February 21, 2009

Belajar dari Kegagalan.


Mark Twain pernah mengatakan "tidak ada pemandangan yang lebih menyedihkan daripada seorang pesimis muda" pernyataan ini di benarkan oleh Anthony Robbins dalam bukunya Unlimited Power. Orang yang percaya kepada kegagalan itu hampir dijamin biasa - biasa saja keberadaannya.


Kegagalan adalah sesuatu yang pokoknya tidak di persepsikan oleh orang -orang yang mencapai kebesaran.Mereka tidak terpuruk oleh kegagalan. Mereka tidak melekatkan emosi -emosi negatif kepada sesuatu yang tidak efektif.


Kalau kita renungakan perjalanan hidup kita selalu diliputi irama turun naik,berhasil dan tidak berhasil,sukses dan bangkrut,kemudahan dan kesusahan dan sebagainnya, saya sendiri dan juga anda saya yakin pernah mengalaminya.


Kalaulah ada orang yang mengklaim bahwa hanya dirinya saja yang mengalami kebangkrutan,ketidak beruntungan dan mengangapnya bahwa hal itu sebagai kegagalan permanen maka hal itu mungkin bisa dikatakan keyakinan keliru,karena pada kenyataannya banyak orang yang mengalami kegagalan,bahkan ada yang bertubi - tubi yang pada akhirnya berhasil.


Apakah kegagalan yang pernah kita alami sedemikian berat,dan berkali - kali ?


Saya persilahkan anda membandingkan kondisi anda sendiri dengan tokoh yang satu ini yang telah mengalami gagal 10 kali, mungkin anda bisa menebaknya ?


1.Gagal dalam bisnis usia 21 tahun.

2.Kalah dalam pencalonan legislatif pada usia 22 tahun.

3.Gagal lagi dalam bisnis pada usia 24 tahun.

4.Mengatasi kematian kekasihnya pada usia 26 tahun

5.Mengalami kekacauan syaraf pada usia 27 tahun.

6.Kalah dalam pencalonan kongres pada usia 34 tahun.

7.Kalah dalam pencalonan kongres pada usia 36 tahun.

8.Kalah dalam pencalonan senat pada usia 45 tahun.

9.Gagal dalam upayanya menjadi wakil presiden pada usia 47 tahun.

10.Kalah dalam pencalonan senat pada usia 49 tahun.

11.Terpilih menjadi Presiden Amerika pada usia 52 tahun.


Dia adalah, Abraham Lincoln.
Mungkinkah ia menjadi presiden seandainya ia memandang
kejadian - kejadian dalam hidupnya itu sebagai kegagalan?... kecil kemungkinannya bukan?.


Tokoh lainnya yang mungkin anda kenal Thomas Edison, setelah ia mencoba 9,999 kali untuk menyempurnakan lampu pijarnya dan belum juga berhasil,seseorang bertannya kepadanya apakah anda mau gagal 10.000 kali? ia menjawabnya ,saya bukan gagal,hanya saja saya temukan satu cara lagi yang kurang efektif untuk membuatlampu pijar. Ia telah menemukan bagaimana tindakan tindakan yang berbeda menghasilkan hasil yang berbeda.


Buckminster Fuller pernah menulis, "Apapun yang pernah di pelajari manusia itu dipelajari sebagai konsekuensi semata dari pengalaman coba-coba.Manusia belajar lewat kesalahan,terkadang kita belajar dari kesalahan kita terkadang dari kesalahan sesama.


Dalam buku Unlimited Power, menyarankan pada kita meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan lima yang anda sebut "kegagalan terbesar" dalam hidup anda.
Apakah yang anda pelajari dari pengalaman tersebut? ....Kemungkinan besar kelima nya itulah "pelajaran paling berharga" yang pernah anda petik dalam kehidupan anda.



Semoga bermanfaat.....


Thursday, January 29, 2009

Seikh Saleh Kamel



Kalau ada konglomerat kaya , dan termasuk dalam jajaran orang terkaya versi majalah forbes dan menduduki urutan ke -12 pengusaha terkaya di Saudi Arabia ,tetapi masih saja rajin memberikan seminar - seminar ,dan tidak pelit berbagi ilmu termasuk acara -acara talk show di TV untuk mempopulerkan system perekonomian syariah dan zakat, siapakah dia?


Beliau lah Saleh Kamel pemilik perusahan Dallah Al Baraka , beliau biasa dipanggil Syeikh sebagai panggilan terhormat di jazirah arab,Saya mulai mengenal sosok ini sejak 1 tahun yang lalu dari sebuah stasiun televisi satelite islami, yang belakangan saya tahu ,ternyata merupakan salah satu station tv miliknya dari pulahan jaringan Arab Radio Television Network milik beliau yang tersebar di negara -negara Arab, Eropa dan Amerika.
Saya jadi rajin mengikuti acara tentang bisnis,investasi dan sistim keuangan syariah di Iqraa TV satelite di mana Syeikh Saleh Kamel sebagai nara sumbernya,awal ketertarikan saya karena cara menyampaikan yang interaktif yang disampaikan dalam bahasa arab dan diterjemahkan alam bahasa inggris dalam bentuk text,dan audiens dari berbagai kalangan ,baik mahasiswa,manager,CEO,bahkan para business owner diberikan kesempatan yang sama untuk bertanya dan dijawab dengan jelas dan lugas,saya menyimak setiap jawaban - jawaban beliau yang sangat "mengena",detail,dan sangat menguasai materi.
Hal ini menurut saya menunjukan bahwa nara sumber ini bukan pembicara biasa,akhirnya saya mencari tahu lebih jauh lagi tentang sosok ini,disamping dorongan keinginan tahu saya tentang ,"apakah ada suatu perusahaan besar dewasa ini yang sukses di bangun dengan menggunakan prinsif - prinsif keuangan syariah serta bagaimana aplikasinya dilapangan ?"
Rasa penasaran itu mulai terjawab setelah mengetahui sosok ini dan perusahannnya yang telah berhasil menerapkan sistim keuangan syariah kedalam berbagai bentuk jenis usaha pada anak -anak perusahaanya ,karena terus terang ,saya termasuk dalam barisan orang awam tentang prinsif - prinsif syariah dalam bisnis,keuangan dan investasi.

Syeikh Saleh Kamel lahir di makkah, tahun 1941 ,lulusan Faculty of commerce, King Abdul azis University ,memulai karirnya sebagai pegawai di pemerintahan sejalan dengan pengetahuannya tentang bisnis yang tambah luas akhirnya mendirikan perusahan sendiri kemudian dikenal sebagai pengusaha yang memiliki jaringan bank syariah, real estate,printing & publishing,pelayanan civil,elektronik dan masuk ke berbagai jenis bisnis yang semuannya menggunakan sistim keuangan syariah,tetapi dari kesekian jenis bisnisnya, beliau lebih dikenal sebagai sebagai ahli dan pioner per bankan syariah,gurus , muslim philanthropist dan salah satu banker terbaik di Saudi Arabia.
Dalam mempopulerkan bank syariah,system keungan syariah,zakat perusahaan serta penyalurannya dalam sekala besar, beliau aktif juga sebagai sebagai pendukung utama dalam dunia bisnis perbankan dan investasi di negara lainnya,seperti di Egypt dengan mendirikan bank syariah pertama yang bernama Faisal Islamic Bank of Egypt yang dibangun tahun 1970 mulai beroprasi mei tahun 1979, di Sudan dan Jordan juga mendirikan bank yang sama,pakistan ,Libanon dan perusahaan perdagangan lainnya yang tersebar di Eropa,USA,Bahamas dan negara Latin.
Kalau anda ingin mengetahui lebih jauh tentang tokoh ini ,silahkan klik Link Website dibawah ini.
Semoga menjadi insipirasi dan bermanfaat....

Monday, January 26, 2009

Thinking out side the box


Dewasa ini mungkin anda sering mendengar istilah "thinking out side the box" . Berfikir di luar kotak, yaitu suatu cara berfikir diluar kebiasaan umumnya,atau berbeda dalam memecahkan suatu permasalahan atau dalam menghadapi prosfektif baru.

Definisi baku dari "Thinking out side the box" sendiri masih belum jelas,karena awalnya istilah ini digunakan oleh management consultant dan executive coaches yang digunakan untuk advertising slogan

Sekarang istilah ini menyebar secara luas,termasuk digunakan di dalam dunia bisnis dan marketing sehingga para pelaku bisnis perlu tahu istilah ini untuk diterapkan dan diperaktekan dalam usahanya untuk mewujudkan inovasi - inovasi produk, langkah langkah bisnis dan strategy bisnis yang akan diambil.

Untuk mengetahui cara fikir diluar kotak selayaknya kitapun harus tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud berfikir didalam kotak (Thinking inside the box),cara berfikir ini artinya kita menerima status quo,kita berfikir secara umum normal dan rutin ,orang yang hanya membatasi dirinya dalam berfikir "inside the box" akan menemukan suatu kesulitan dalam membedakan "suatu kualitas ide", ide adalah ide, solusi adalah solusi,mereka sangat jarang menginvestasikan waktunya untuk memikirkan "a great solution".

Hal lain yang sangat penting adalah pada orang yang membatasi dirinya dengan cara fikir inside the box mereka cenderung terampil dalam membunuh ide -ide dengan kata -kata " itu sangat beresiko,sangat tidak mungkin, "tidak akan berfungsi " dsb.

Mereka juga percaya bahwa setiap masalah hanya memerlukan satu solusi , menumukan lebih dari satu kemungkinan alternatif solusi hanyalah buang -buang waktu."There is no time for creative solution, we just need the solution"

Orang -orang yang memiliki creativitas yang tinggi pun akan terjebak kedalam cara berfikir "Inside the box"ketika dia berhenti mencoba.

Sekarang apa kriteriannya untuk berfikir diluar kotak (outside the box)?

Menurut ezine dari canadaone salah satu website bisnis yang sering saya kunjungi ,ada beberapa hal yang harus kita miliki diantaranya:

1. Keinginan untuk mengambil prospektif2 baru dari hari ke hari.

2. Berfokus pada nilai dalam menemukan ide -ide baru dan bertindak dengan nya

3. Terbuka pada sesuatu yang berbeda dan melakukan sesuatu dengan cara berbeda.

4 Berusaha menciptakan nilai dengan cara -cara baru.

5.Mendengarkan orang lain.

6 Mendukung dan menghormati orang lain ketika mereka mengungkapkan ide - ide barunya.





Semoga bermanfat....

Tuesday, January 20, 2009

Menunda Keinginan


Apa perbedan antara keinginan dan kebutuhan ?

Saya yakin anda semua tahu jawabannya.

Saya teringat tentang masa lalu saya selepas kuliah,dan kemudian bekerja di Jakarta. Saat pertama mendapatkan gaji terasa senang luar biasa, saya berpikir dengan pendapatan saya itu, saya bisa beli apa saja yang saya kehendaki saat itu,saya merasa bisa memanjakan keinginan saya tanpa ada orang yang membatasi, mungkin saat itulah yang merupakan "Era foya- foya" bagi saya, pada akhirnya saya tersadar dan mulai berfikir tentang masa depan,bisnis dan investasi.

Mungkin andapun pernah mengalami masa "Era foya -foya ini"?

Masa ini biasanya dialami pada saat kita pertama kali mendapatkan gaji atau penghasilan dan berlangsung selama beberapa bulan atau tahun orientasi kita hanya untuk "memenuhi keinginan" atas barang - barang konsumtif semata dan tergiur dengan barang- barang yang "wah", "paling" atau yang "ter" tanpa melihat pada nilai guna dan manfaatnya.

Kalau diantara pembaca masih ada yang mengalami masa ini terus menerus , berkelanjutan sampai sekarang ,maka anda harus hati - hati ,periksa tabungan anda dan dan mulailah memikirkan masa depan anda,karena banyak fakta yang menunjukan bahwa kebiasaan boros di waktu muda akan berdampak jelek di masa tua.

Lalau apakah kita salah memiliki barang - barang mahal yang kita idam idamkan untuk kebutuhan konsumtif kita ?

Tentu tidak salah kalau barang yang mahal dan wah itu masih jauh lebih kecil dari pendapatan/kemampuan kita.

Terus bagaimana dengan pendapatan yang besar? itu juga bukan jaminan, saya punya teman sebut saja Jhony namanya, gaji nya lumayan yaitu sekitar 15 juta /bulan, tetapi dia selalu mengeluh kekurangan,bahkan hanya untuk beli susu anaknya harus mencari pinjaman sana sini, Mungkin anda tidak percaya kalau hanya melihat pada gaji nya,tapi kenyataannya demikian.

Dia mempuanyai 4 mobil yang merupakan liabilitas,2 rumah yang tidak tersewa dan harga sewa sangat rendah karena lokasi yang tidak strategis.Untuk membiayai mobil yang rusak,renovasi rumah dsb dia pinjam bank yang akhirnya terlilit hutang,pada akhirnya semua miliknya itu dia jual murah dan dibawah harga pasar,yang menyebabkan teman saya ini kehilangan semua miliknya tetapi hutang pada bank masih belum terlunasi.

Kalau di analisa secara sederhana hal itu akan terjawab juga, pendapatan 15 juta dengan pengeluaran 15 juta = O

Dilain pihak ada teman yang pendapatannya 4,5 juta per bulan tapi sanggup berinvestasi beli tanah dan rumah serta merintis bisnis sampingan.Ternyata dia menganggarkan untuk dana kebutuhan rutin keluarganya 2,5 juta/bulan dan untuk tabungan (investasi) rutin per bulan 2 juta. atau 24 juta pertahun plus hasil bisnis sampingannya.

Lalu siapa yang lebih kaya?

Kalau anda tinggal di kota besar seperti Jakarta misalnya,pernahkah anda mengamati atau melakukan survey kecil kecilan tentang kemampuan keuangan antara karyawan kantoran yang berdasi membawa Hp keluaran terbaru dengan orang yang berpakaian lusuh yang memiliki warteg, pecel lele,atau yang jualan teh botol di pinggir jalan?


Saya pernah melakukannya,saat saya bekerja di Jakarta dulu, saat itulah saya merasa bahwa jangan pernah menganggap remeh orang hanya dari penampilan semata,ternyata orang orang yang berpakaian lusuh itu jauh lebih baik dari saya dari segi financial, itu pelajaran pertama yang saya dapatkan.


Belakangan saya tahu bahwa mungkin itu adalah salah satu contoh nyata apa yang disebut oleh para motivator seperti Tung Dasem waringin dengan istilah "Hidup dibawah kemampuan".Kalau kita mampu beli mobil maka belilah motor, kalau kita mampu membeli mobil BMW maka belilah honda atau toyota.Dengan begitu neraca keuangan kita selalu surplus bukan minus, sehingga kelebihan uang kita bisa di investasikan terus untuk menciptakan income- income baru ,bisa berbentuk bisnis,bisa berbentuk property,atau usaha -usaha lain yang sesuai dengan kemampuan kita.


Dalam hal ini bukan berarti kita pelit pada diri sendiri, kalau istilah para motivator ini disebut dengan "menunda keinginan" sampai kita mampu membeli barang barang konsumtif yang kita inginkan tanpa mengganggu neraca keuangan utama ,lebih bagus lagi kalau membelinya dari pendapatan pasif income investasi kita.


Disamping prinsif di atas aspek pengetahuan tentang investasi juga memegang peranan yang sangat penting untuk membedakan kita bagaimana berinvestasi dengan cerdas dengan alakadarnya ,mungkin anda pernah mendengar bagaimana orang bisa mengumpulkan kekayaan miliaran hanya dalam beberapa tahun saja seperti yang dibahas dalam Seven years to seven figurs ,kalaulah kita tidak sampai seperti itu minimal kita bisa lebih cerdas dalam investasi dari kalangan di sekitar kita untuk itulah di perlukan pengetahuan.

Mengelola Keuangan Pribadi Menurut Robert T Kiyosaki, Ada 2 hal utama yang membedakan orang kaya dengan kelas menengah dan miskin. Yang pertama adalah kepemilikan aset, orang kaya membeli aset, sedangkan kelas menengah dan miskin membeli liabilitas yang mereka anggap aset. Perbedaan kedua adalah kontrol atas uang.




Banyak orang yg memenangkan rezeki besar ,atau mendapatkan hadiah undian akhirnya kehilangan rezeki itu dalam waktu singkat ,contoh lainnya,kalau di Jakarta kita sering menyaksikan warga betawi yang menjual tanahnya mendapatkan miliaran ,uang sebesar itu tidak terkontrol dan pada akhirnya hanya tersisa rumah sepetak dan letaknya di luar jakarta malah diantara mereka ada yang berakhir dengan menyewa rumah .



Mengapa demikian ?

Karena untuk mengontrol uang Anda harus memiliki pengendalian emosi dan pengetahuan finansial. Orang kaya pertama tama berinvestasi pada diri mereka sendiri (investasi pengetahuan) dengan mengembangkan kemapuan mengendalikan uang sebelum memulai membangun kekayaan materi.



Semoga bermanfaat.





Friday, January 16, 2009

Thought of the day

Kita tidak mungkin menyesuaikan situasi- situasi kehidupan kita,tetapi kita dapat menyesuaikan sikap kita agar pas dengan situasi - situasi kehidupan kita. Kegagalan bukanlah kegagalan kecuali anda tidak belajar darinya. ---(Dr.Ronald Niednagel).




"Tak ada pemandangan yang menyedihkan daripada seorang pemuda/pemudi yang pesimis."----(Mark Twain)




"Janganlah pernah menerima yang negatif hingga anda tela'ah tuntas yang positif. Seseorang yang menela'ah batinnya tidak mungkin tidak berubah -----(James Allen)