Wednesday, September 26, 2007

WARALABA ( FRANCHISE)


Pagi ini saya dengan tidak sengaja membuka secara acak halaman salah satu tabloid dan majalah waralaba, sebenarnya tidak ada hal khusus atau istimewa dari majalah ini, isinya bersifat umum dan seperti majalah bisnis,waralaba lainya. Tetapi mata saya tertuju pada paragraf pertama tabloid ini yang kata-katanya cukup "keras"dan menusuk pada orang yang masih bersetatus karyawan." Anda ingin kaya, jangan hanya jadi pegawai,melainkan jadilah pengusaha"....mm saya jadi ingat judul buku yang lain yang judulnya kontradiktif yaitu " Siapa bilang jadi karyawan tidak bisa kaya" ?.... nah loh?..

Jadi mana yang benar kalau gitu?

Ternyata setelah dibaca isinya dua-duanya memiliki visi dan misi yang sama, ujung-ujungnya mengajak berwirausaha, yang sekarang jadi pegawai/karyawan bisa kaya juga seperti pengusaha, caranya katanya lakukan smart businness seperti menurut pak masbukin, selama menjadi pegawai sudah mulai merintis usaha,gunkakan network yang sekarang dia punyai,pengalaman,keahlian dan modal dari gajinya dengan catatan jangan sampai mengganggu kerja dan kewajiban anda sebagai karyawan pada intansi,swasta atau pemerintahan.

Salah satu jalan pintas masuk ke dunia bisnis atau wirausaha, khususnya bagi mereka yang belum pernah memiliki dan mengelola usaha sendiri adalah waralaba. Lewat sistim waralaba atau Franchise ini , pembeli waralaba (Terwaralaba) tidak perlu memulai usahanya dari nol juga tidak perlu memiliki keahlian khusus untuk menekuni bisnis yang sangat spesifik sekalipun. Sebab dia tinggal mengcopy nama,produk,sistem oprasional dan manajemen perusahaan yang menawarkan waralaba( pewaralaba). Pewaralaba disini tentu haruslah perusahaan yang terbukti sukses di bisnisnya dan namanya pun sudah dikenal oleh masyarakat.

Sebagai bahan pertimbangan untuk memilih secara bijaksana,waralaba mana yang paling pas untuk anda,ada beberapa hal yang perlu anda cermati, silahkan ikuti tip -tips dari pengalaman pelaku bisnis dan ahli dibidang FRANCHISE yang saya dapatkan dari majalah bisnis dan tabloid kontan.

Pertama : Pastikan pewaralaba sudah terbukti berhasil dibisnis yang mereka tawarkan (proven),salah satu cara untuk mengetahuinya mintalah data keuangan perusahaan tersebut. Anda pantas meragukan pewaralaba yang tak mau terbuka soal laporan keuangan ini.

Kedua: Cari tahu sudah berapa lama pewaralaba menekuni bisnisnya? Umumnya pewaralaba yang baik minimal sudah menekuni bisnis yang mereka tawarkan minimal 3 tahun.Dalam rentang waktu tersebut diharapkan perusahaan sudah memahami seluk bisnis dengan cukup baik.

Ketiga: Berapa banyak gerai atau prototipe usaha milik pewaralaba? pewralaba sudah memiliki minimal 3 gerai yang sudah terbukti berhasil.Sebaiknya gerai itu berada dilokasi berbeda namun dikelola dengan sistim serupa.

Keempat: Apakah produk atau jasa yang mereka jual memiliki pasar bagus? pilihlah produk dan jasa yang ada pada siklus pertumbuhan. Secara sederhana ini bisa kita lihat dari banyaknya orang yang datang ke gerai milik pewaralaba.

Kelima: Bagaimana paket kerjasamanya? waralaba seharusnya berupa business format franchising,dimana franchisor memberikan paket lengkap mulai merek produk,cara kerja,sistem,juga ada pelatihan dan pembinaan selanjutnya.Jadi dia bukan sistem jual putus, juga bukan peluang bisnis (business opportunity) yang ditawarkan oleh perusahaan yang baru berdiri.

Dalam paket kerjasama waralaba, Franchise fee,royalty fee,dan fee lainnya haruslah masuk akal.Idealnya dengan seluruh biaya-biaya itu,terwaralaba bisa balik modal (break even)pada pertengahan masa kerjasama. Sebagai patokan franchise fee yang ideal maksimal 15 % dari total proyeksi keuntungan selama 5 tahun.Misalnya proyeksi keuntungan si terwaralaba Rp 1 juta perbulan atau 60 juta selama 5 tahun. Maka franchise fee nya maksimal Rp. 9 juta.

Keenam: Apakah franchisor memiliki lembaga training yang baik? artinya lembaga training ini memang ada dan menjalankan aktifitasnya secara rutin bukannya baru ada jika ada terwaralaba.Selain pemilihan lokasi,training adalah kunci sukses bisnis waralaba, sebab disitu ada transfer pengetahuan,teknologi dan kemampuan yang menjadikan kekuatan waralaba.

Ketujuh: Bagaimana kualitas SDM si franchisor? hindarai waralaba yang manajemenya bersifat one man show dimana peran Owner terlalu besar, jika semua dilakukan oleh owner mulai dari menawarkan di pameran,melakukan follow-up di telpon hingga negoisasi ini pertanda ia tidak memiliki orang-orang berkualitas di lapisan manajemen.Dikemudian hari ini biasanya menjadi masalah.

Last but not least, cari tahu bagaimana karakter si owner waralaba? sikap san pola laku owner perusahan induk (franchisor) Misalnya jika owner menganut gaya hidup atau karakter tidak disukai pasar,seluruh gerai dalam jaringan waralabanya bisa dijauhi pembeli.

Semoga bermanfaat.....